Persaingan Ketat Go-Jek vs Grab Dibayangi Kecurangan (Fraud)

Fraud menjadi isu tersendiri di sistem transportasi online Gojek dan Grab. Di satu sisi, fraud dapat menyebabkan kerugian bagi penyedia platform transportasi online, di sisi lain juga menjadi koreksi atas lemahnya sistem yang mereka miliki

Persaingan Ketat Go-Jek vs Grab Dibayangi Kecurangan (Fraud)

Populasi penduduk Indonesia yang besar menjadi pemacu industri transportasi online (ride-hailing) tumbuh subur, meski pada akhirnya hanya dua yang bertahan yakni Go-Jek, start-up unicorn asal Indonesia dan Grab, perusahaan penyedia layanan ride-hailing terbesar di Asia Tenggara.

Seiring berjalannya waktu, persaingan antara Go-Jek dan Grab semakin sengit. Keduanya saling salip dalam mengembangkan layanan dan meningkatkan kualitasnya. Harapannya, tentu saja ingin memperoleh jumlah pengguna yang lebih banyak daripada pesaing. Namun, pada akhirnya konsumen yang menjadi penentu.



Spire Research and Consulting, salah satu perusahaan riset terkemuka global yang berpusat di Tokyo, Jepang, belum lama ini melakukan studi terhadap pengemudi dan konsumen untuk mencari tahu preferensi terhadap penyedia layanan transportasi online dari berbagai aspek, seperti consumer awareness, frekuensi penggunaan, dan preferensi dalam menggunakan layanan e-money.

"Temuan paling menarik dari studi kami adalah adanya kecurangan (fraud) yang cukup besar dan bagaimana pandangan para pengemudi (driver) terhadap hal tersebut," ungkap Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, di Jakarta.

Persaingan Ketat Go-Jek vs Grab Dibayangi Kecurangan (Fraud)

Purjono Agus Suhendro, CEO & Editor in Chief of TechnoBusiness Media; Muhammad Rizki Faisal, Assistant Manager of Spire Research and Consulting; Andhika Irawan Saputra, consultant of Spire Research and Consultant; Jeffrey Bahar, Group DeputyCEO of Spire Research and Consulting (ki-ka)

Berdasarkan hasil survei "Consumers' Awareness" yang dilakukan Spire Research and Consulting selama bulan November 2018, sebanyak 75% dan 61% responden menyebutkan bahwa Grab merupakan merek (brand) yang mereka gunakan dalam 6 dan 3 bulan terakhir. Sementara itu, 62% dan 58% responden memilih menggunakan Go-Jek untuk kategori yang sama dalam 6 dan 3 bulan terakhir.

Melihat data tersebut, konsumen lebih banyak menggunakan Grab, setidaknya hingga kuartal 4/2018. Sebanyak 34% pengguna GrabCar, salah satu layanan dari Grab, menyebutkan bahwa mereka menggunakan layanan itu sebanyak 3-4 kali per minggu. Sementara itu, 25% pengguna Go-Car cenderung hanya menggunakan layanan sebanyak 1-2 kali dalam seminggu.



Di kategori roda dua, Go-Ride masih menjadi pilihan utama pengguna transportasi online. Dari total responden yang memilih Go-Ride, sebanyak 64% menggunakannya hingga 1-2 kali sehari, sedangkan pemilih GrabBike yang menggunakan 1-2 kali dalam sehari ada 58%.

Persaingan Ketat Go-Jek vs Grab Dibayangi Kecurangan (Fraud)

Untuk layanan online food delivery, Go-Food masih memimpin. Sebanyak 35% responden menyebutkan bahwa Go-Food merupakan layanan yang paling sering mereka gunakan. Sementara 27% responden menyatakan memilih GrabFood.

Tumbuhnya permintaan online food delivery tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan oleh para penyedia platform pembayaran. Merujuk pada hasil survei, rupanya OVO, aplikasi pembayaran yang digandeng Grab, unggul dalam pembayaran online to offline (O2O), seperti untuk membeli pulsa dan pembayaran di gerai-gerai non-makanan.

Berbeda dengan OVO, Go-Pay, platform pembayaran milik Go-Jek, lebih sering digunakan di pembayaran kedai-kedai makanan-minuman (Go-Food) dan untuk membayar tagihan listrik melalui aplikasi Go-Jek.

Sayangnya, di tengah "gegap-gempitanya" bisnis transportasi online, tindak kecurangan (fraud) pun terjadi. Bahkan, dalam studi yang dilakukan Spire Research and Consulting, fraud di kalangan pengemudi (driver) sudah menjadi rahasia umum.

Fraud menjadi isu tersendiri. Di satu sisi, fraud dapat menyebabkan kerugian bagi penyedia platform transportasi online, di sisi lain juga menjadi koreksi atas lemahnya sistem yang mereka miliki.

Spire Research and Consulting memperkirakan sebanyak 30% dari order yang diterima Go-Jek terindikasi fraud. Angka itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan persentase fraud Grab yang diperkirakan hanya 5%. Angka tersebut berdasarkan estimasi jumlah order fraud dibandingkan jumlah total order yang diterima. Ini merupakan masalah sistematis bagi kedua perusahaan dan terutama, permasalahan yang Go-Jek harus segera atasi.

Persaingan Ketat Go-Jek vs Grab Dibayangi Kecurangan (Fraud)



"Perkiraan ini masuk akal karena kami juga melakukan survei terhadap para pengemudi transportasi online," ungkap Jeffrey. "Di 2018, dari para pengemudi Go-Jek sendiri yang kami survei, 60% di antaranya mengaku pernah melakukan fraud untuk meningkatkan jumlah order mereka yang akan berpengaruh pada bonus dan pendapatan harian yang mereka terima." Survey ini dilakukan terhadap 40 orang pengemudi kedua transportasi online (grab dan gojek) di wilayah Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya.

Para pengemudi Go-Jek yang pernah melakukan fraud itu mengatakan melakukannya karena menemukan celah yang dapat ditembus dalam sistem Go-Jek. Caranya, dengan menggunakan aplikasi yang dapat memodifikasi lokasi (mod). Di sisi lain, meski pengemudi Grab tak terbebas dari praktik fraud, namun jumlahnya lebih sedikit, yakni kurang dari 10%.

Para pengemudi Grab mengatakan ketatnya sistem keamanan di aplikasi Grab dapat mendeteksi adanya praktik nakal para pengemudi dan tegasnya sanksi yang diberikan oleh manajemen ditengarai mampu menjadi penghalau niat para pengemudi Grab untuk melakukan tindak kecurangan. Para pengemudi juga menyatakan bahwa kedua perusahaan berusaha untuk memperbaiki sistem mereka dalam mendeteksi fraud.

Singkatnya, berdasarkan hasil survey Spire Research and Consulting terhadap driver ojek online setidaknya ada 5 jenis kecurangan yang kerap dilakukan oleh mereka yaitu:
- Mark Ups : Mitra Ojek Online akan melakukan "mark up" terhadap tagihan yang diberikan di aplikasi untuk makanan, bahan makanan, dll
- Fake GPS : Mitra menggunakan aplikasi tambahan untuk mengelabui sistem yang dengan aplikasi tersebut mitra dapat menentukan lokasi mereka di aplikasi, walaupun sebenarnya mereka tidak berada di lokasi tersebut.
- Mod Apps : Mitra menggunakan aplikasi tambahan yang telah dimodifikasi dengan fitur tambahan untuk mempermudah mitra mendapatkan order
- Phantom Orders (Tuyul) : Mitra menggunakan aplikasi tambahan untuk melakukan pemesanan fiktif yang sebenarnya tidak ada
- Priority Drivers : Mitra mendaftarkan diri ke pihak ketiga yang nantinya akan mengatur aplikasi yang dimiliki mitra untuk menjadi prioritas sehingga lebih mudah untuk mendapatkan order.

Saat ini, Grab dan Go-Jek sama-sama berkembang pesat, baik di ranah transportasi online maupun online food delivery, Tanah Air. Akan tetapi, perhatian khusus harus diberikan terhadap aspek fraud demi menjamin perkembangan teknologi dan industri yang sehat. Khususnya wajib menjadi perhatian penyelenggaranya, dalam hal ini pihak Gojek dan Grab, yang mana jangan sampai konsumen menjadi pihak yang dirugikan.


Share :

KOMENTAR