Ini 5 Alasan Mengapa Perusahaan di Asia Tenggara Sering Impor Ekspat

Ini 5 Alasan Mengapa Perusahaan di Asia Tenggara Sering Impor Ekspat

Ini 5 Alasan Mengapa Perusahaan di Asia Tenggara Sering Impor Ekspat

Serbapromosi.CO - Rasanya tiada hari tanpa berita tentang fresh funding, joint ventures dan pelebaran pasar dalam dunia digital ekonomi di Asia Tenggara. Uang, sepertinya bukan menjadi masalah bagi para perusahaan internet ini. Sebaliknya, ada masalah yang lebih besar yakni kurangnya sumber daya yang paling berharga dari perusahaan yaitu SDM atau talent.

Setiap perusahaan teknologi di Asia Tenggara yang diwawancarai oleh ecommerceIQ, menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menemukan, merekrut dan mempertahankan talenta terbaik dalam perusahaan mereka dan itu justru menjadi tantangan utama.

Di wilayah yang berlimpah dengan jumlah orang sebanyak - 650 juta - dan sumber daya yang kaya, mengapa begitu sulit mencari talent di Asia Tenggara?

Melalui survei singkat yang diadakan oleh ecommerceIQ terhadap para eksekutif dari perusahaan besar seperti Colgate, Grab, Facebook, Blibli, DHL dan Abbott. Mereka berbagi ciri-ciri kandidat bertalenta yang mereka anggap cocok untuk bergabung dengan perusahaan mereka dan pemikiran mereka tentang dunia perekrutan di wilayah Asia Tenggara.

Berdasarkan feedback yang kami dapatkan menunjukan bahwa semua perusahaan diatas menghadapai masalah yang sama seperti gaji yang melambung tinggi, job hopping, dan kurangnya pemikiran strategis dan rasa kepemilikan terhadap perusahaan.

Berikut adalah hasil yang kami dapatkan:

  • Digital Marketing (25.8%), Senior Management (16.1%) dan Tech (16.1%) adalah top tiga departemen yang paling kesulitan dalam menemukan talent yang berkualitas;
  • Problem Solving dan Technical Skills (keduanya berjumlah 54.8%) dianggap sebagai skill yang paling sulit dicari di Asia Tenggara diikuti oleh Strategic Thinking (45.2%) and Data Analysis (12.9%) masing-masing;
  • Problem Solving dan Strategic Thinking (masing-masing berjumlah 67.6%) adalah top skills yang krusial bagi seorang kandidat untuk lolos, diikuti dengan kemauan untuk belajar (Willingness to Learn) (45.2%) dan Strong Culture Fit (38.7%). Kedua hal yang pertama disebut juga merupakan yang paling sulit ditemukan di Asia Tenggara.


Bagaimana perusahaan menavigasi talent challenge?

Di Asia Tenggara, Di Asia Tenggara, soft skills harus mengalahkan hard skills setiap kali. Perusahaan dapat mengajarkan seseorang untuk menavigasi SQL, mengelola waktu dan mengatur AdWords, tetapi mereka akan kesusahan untuk mengajarkan resolusi konflik, motivasi diri, dan penyelesaian masalah.

Seperti semua strategi bisnis, upaya rekrutmen perlu disesuaikan dengan pasar lokal agar sukses, baik melalui tim internal atau platform pihak ketiga.



Ini adalah praktik perekrutan terbaik yang pernah dibagikan kepada ecommerceIQ:

  • Resume bukanlah ulasan 360° dari seorang individu, pengalaman, dan hasil kerja sebenarnya lebih berpengaruh
  • Pendidikan mewah tidak menjamin pemikiran yang strategis atau ketangguhan, calon yang kurang berpengalaman tetapi lebih lapar untuk belajar dapat melangkah lebih jauh
  • Perbarui sistem aplikasi lama yang membutuhkan 10 langkah hanya untuk mengunggah CV
  • Ajak C-level Anda untuk mencari talent karena mereka adalah jaringan terbesar Anda untuk mendapatkan kandidat yang bertalenta.
  • Kaji ulang kualifikasi yang tidak realistis (contoh: 10+ tahun dalam digital, 7 tahun di ecommerce, dll.) Atau Anda tidak akan pernah menemukan satupun kandidat
  • Berikan training kepada karyawan Anda dan ciptakan budaya internal yang dapat mengakomodasi kemauan mereka.


Perusahaan di pasar negara berkembang seperti Asia Tenggara kerap terfokus untuk tumbuh menjadi lebih tinggi juga besar dan membakar uang tunai untuk merebut pangsa pasar, tetapi lupa untuk membangun budaya perusahaan yang kokoh dan positif sehingga membuat karyawan yang bertalenta merasa nyaman dan ingin bertahan.


Share :

KOMENTAR